Demo besar-besaran di Iran kembali mengguncang Teheran dan sejumlah kota lain. Situasi keamanan yang terus memburuk mendorong pemerintah Prancis menarik staf non-esensial dari Kedutaannya di Iran. Langkah ini menegaskan kekhawatiran dunia internasional terhadap eskalasi kerusuhan yang belum mereda.
Selain memicu instabilitas, gelombang protes ini juga memengaruhi hubungan diplomatik. Sejumlah negara kini meningkatkan kewaspadaan demi melindungi warganya di Iran.
Staf Kedutaan Prancis Tinggalkan Teheran
Media Prancis melaporkan bahwa staf non-esensial Kedutaan Besar Prancis mulai meninggalkan Teheran sejak akhir pekan. Mereka berangkat secara bertahap pada Minggu dan Senin waktu setempat.
Namun, otoritas Prancis belum mengungkapkan jumlah pasti staf yang keluar dari Iran. Biasanya, satu kedutaan besar di Teheran menempatkan sekitar 30 staf ekspatriat dan belasan staf lokal. Oleh karena itu, keputusan ini menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
Baca Berita Lainnya “Waspada Sindrom Brugada, Gangguan Jantung yang Bisa Terjadi Saat Tidur“
Demo Besar-besaran di Iran Dipicu Krisis Ekonomi
Sementara itu, demo besar-besaran di Iran bermula dari tekanan ekonomi yang kian berat. Protes pertama muncul di kawasan Grand Bazaar Teheran pada akhir Desember, saat pedagang memprotes anjloknya nilai tukar Rial Iran.
Selanjutnya, aksi tersebut menyebar ke berbagai kota. Para demonstran tidak hanya menuntut perbaikan ekonomi, tetapi juga menantang sistem pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak Revolusi 1979. Akibatnya, bentrokan antara massa dan aparat semakin sering terjadi.
Pemerintah Iran Tuduh Campur Tangan Asing
Di sisi lain, pemerintah Iran secara terbuka menuding kekuatan asing berada di balik kerusuhan. Presiden Masoud Pezeshkian menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas meningkatnya ketidakstabilan nasional.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa aparat Iran menemukan bukti keterlibatan badan intelijen Israel, Mossad, dalam sejumlah aksi kekerasan. Pernyataan ini semakin memperkeruh situasi politik regional.
Ratusan Korban Jiwa Akibat Penindakan Aparat
Namun demikian, kelompok hak asasi manusia menyoroti tindakan keras aparat keamanan Iran. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat sedikitnya 572 orang meninggal dunia selama rangkaian unjuk rasa.
Lebih jauh, laporan tersebut menyebut ribuan orang mengalami luka-luka. Aparat juga menahan lebih dari 10.600 demonstran di ratusan lokasi yang tersebar di seluruh provinsi Iran. Kondisi ini memicu kecaman dari berbagai organisasi internasional.
Dunia Internasional Terus Pantau Iran
Dengan meningkatnya korban dan keluarnya staf diplomatik asing, demo besar-besaran di Iran kini menjadi sorotan global. Banyak negara mendesak penyelesaian damai serta perlindungan terhadap warga sipil.
Ke depan, situasi Iran masih berpotensi berkembang secara dinamis. Oleh sebab itu, komunitas internasional terus memantau langkah pemerintah Iran dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.






